Jumat, 14 September 2012

Kenangan Mengenang

alunan syair membinggungkanku, membawaku terbayang melayang kembali keperadaban sebelum saat ini... aku semakin larut dan semakin binggung, kemana otakku melayang membawaku... hati juga mendung mendukung suasana yang telah tercipta dalam ruang kerajaanku...

ah... rasa syahdu mengelitik kalbu, mengingat suatu masa yang sudah lama berlalu dan tentang mereka yang juga sudah lama hilang melayang dan akupun tak tahu kemana mereka berlalu....

manik-manik mata pun perlahan-lahan berlomba menuju tempat terbawah yang bisa mereka capai, beriringan dengan lyric-lyric yang mengalun indah membongkar ingatan itu, tentang masa yang sudah berlalu sehingga kenangan mengenang membentuk kolam pemikiran yang tak terbatas...
ah... kenapa kembali lagi? kenapa terpikir lagi? kenapa teringat lagi? membinggungkan sekaligus menyakitkan juga menyebalkan.......

perasaan, membawa langkah kaki kembali pada masa yang telah pergi, membawa kembali semua yang sudah mati, membangunkan semua yang menyepi, menyatukan dalam kolam pemikiran yang tak terbatas itu...

ah......






Kamis, 13 September 2012

Jalanan




Keluar dari pintu, aku menemukan jalanan yang begitu ramai, ada orang-orang yang duduk-duduk sambil berbincang, tertawa, merekok, minum....berbelok ke kanan, telusuri terus jalanan itu...kembali aku menemukan banyak mereka yang berpakaian dinas sedang duduk di kursi-kursi minuman di jalanan itu. Tiba ku dikotak kubus, kuketok dalamnya, ternyata tak ada isinya, kembali kuberjalan.

Jalanan itu tetap riuh oleh suara-suara itu, manusia berusaha bersaing mengalahkan mesin-mesin itu, gelak tawa terus membahana mengalun bersama suasana panas pekat menyengat... Tak kurasa peluhku mulai menetes.

Tak kurasa kakiku melangkah memasuki benda persegi panjang itu, menikmati bagian demi bagian di dalamnya, ku temukan aroma yang menyegarkan dan menenangkanku, ku singgahi tempat yang lain lagi, ku menemukan seorang perempuan yang merasa mendahulukan ku dan berusaha berdebat dengan pria itu yang menyerebotku, akhirnya mereka berakhir dan aku selesai dengan benda persegi panjang itu.

Kembali aku menapaki jalan yang sama dengan aku pergi tadi, aku tetap menemukan pria-pria berseragam itu, dengan kendaraan yang mereka miliki, mereka bergerombol, aku tidak tahu apa yang terjadi di sini, hanya terlihat siaga di mana-mana.... kakiku tak mau berhenti, terus melangkah, mataku menemukan stand buah-buahan, ada pula kue khas suatu perayaan, hatiku bertanya, "akan ada perayaan apa ya?" aku tetap binggung, tapi kakiku tak berkompromi dengan bibir, otak dan mataku, dia terus melangkah..

Kutemukan lagi gelak tawa mereka, rokok, perbincangan, akhirnya kakiku berhenti, otak memerintahkan tangan tuk merogoh saku, mengambil kunci dan membuka pintu. Rupanya ku harus masuk kembali ke dalam kerajaanku...

Jalanan sudah berlalu............

Selasa, 11 September 2012

Every Single Day

Add caption

Every Single Day

Hari ini, untuk kesekian kalinya dari setiap hari yang aku perhatikan, setiap aku melewati jalanan itu, aku menemukan sepasang manusia diusia yang tidak lagi belia, saling bergandengan tangan menapaki jalanan menghirup udara yang nyaman di sekitar pepohonan yang rindang.

Aku melihat sorot kebahagian dari sentuhan tangan mereka, aku melihat sukacita digelak tawa yang terpantul dari raut mata mereka, aku melihat ada kedamaian ketika mereka bersama, saling berbicara dan berpandangan layaknya manusia muda yang baru memadu cinta.

Suatu yang sudah jarang ku temukan ketika aku menapaki kota-kota lintasanku. Kota-kota yang penuh dengan kesibukan sehingga tidak ada lagi gandengan tangan antara sepasang manusia, hanya mereka yang baru memadu cinta yang melakukan itu, selain itu, kesibukan yang mewarnai hari-hari manusia.

Di Kota-kota ini aku melihat kesibukan setiap orang, dengan raut wajah lurus tanpa ekspresi, masing-masing terlarut dalam pemikiran... Entah apa.... akupun tidak tahu. Sibuk dengan karir, sibuk dengan urusan masing-masing, sibuk dengan hal yang mereka pikir itu paling penting untuk mereka pikirkan, sehingga sepasang manusia lupa untuk saling bergandengan tangan melewati jalanan yang mereka lalui di setiap waktu pertengahan hidup mereka, disetiap hari yang harus mereka lalui.

Senin, 10 September 2012

intro

sebagai pemula.... aku mulai dengan tulisan yang pernah aku tulis, semoga bermanfaat..........

Bejana Allah 2 Korintus 4:7


“tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari diri kami.”
film Jackie Chan tentang perebutan mutiara. JC menghadiri pesta pernikahan pamannya di US, pamannya ini memiliki supermarket, tetapi kemudian dijual kepada satu wanita keturunan tionghoa juga. Pada suatu hari terjadi kekacauan di supermarket ini, ada sekelompok preman yang menguntil, tetapi ketahuan dan dihajar oleh JC. Karena merasa dipermalukan, mereka membalas dendam kepada JC. Dihari berikutnya, di sudut kota yang lain, terjadi transaksi antara gangster, sebut saja A dan B, kel. B menjual permata kepada A dengan jumlah yang banyak. Masalahnya mulai terjadi ketika kel. A melakukan kecurangan, mereka tidak mau kehilangan uang dan juga ingin mendapatkan permata tersebut, oleh karena itu mereka menggunakan cara yang sangat licik, yakni membunuh kel. B. maka terjadilah baku tembak di antara mereka, tetapi ternyata suasana tidak menguntungkan untuk kel. B, sehingga mereka terdesak dan akhirnya ditembak hingga mati, tetapi permatanya masih di tangan mereka. Kebenaran, ada salah satu anggota preman yang nguntil tadi, ada di TKP, ketika ia melihat permata, ia gelap mata dan mengambil permata tersebut. Singkat cerita, kel. A tidak terima permatanya hilang, oleh karena itu mereka memburu satu preman ini dan menyerang juga kelompoknya, seingga salah satu anggota preman mati dengan cara dimasukkan ke dalam mesin penghancur kayu. Sedangkan satu anggota preman itu, namanya Theo, berjuang juga untuk memiliki permata itu. Akhirnya memang menang para preman dengan bantun JC dan permata itu diserahkan kepada polisi karena ternyata itu adalah barang selundupan.
Betapa berharganya permata itu sampai-sampai orang rela mengorbankan nyawa orang lain dan mempertaruhkan nyawa diri sendiri untuk memiliki permata tersebut. Pertanyaan saya, kita sendiri bagaimana memperlakukan barang berharga kita?
Ada beberapa sikap:
  1. Menyimpannya dengan sangat baik
  2. Merawatnya (membersihkan)
  3. Menjaganya
  4. Menginvestasikannya agar bertambah

Teman-teman, Tuhan juga memiliki harta yang sangat berharga seperti yang dituliskan dalam firman Tuhan bagi kita hari ini. Dituliskan dan dijelaskan dalam 2 Korintus 4:1-6, bahwa harta yang sangat berharga itu adalah pekabaran tentang terang Allah, yakni keselamatan kekal yang diberikan oleh Allah melalui anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Inilah harta yang sangat berharga itu, yakni Yesus Kristus.
Seperti barang berharga pada umumnya, harta yang Tuhan berikan ini sangat-sangat berharga, tidak bisa sembarang untuk disia-siakan. Tuhan ingin kita menyimpannya baik-baik, gimana caranya?
  1. Firman yang sudah didengarkan, disimpan baik-baik didalam hati
  2. Direnungkan
  3. Dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari
  4. Bahkan diinvestasikan – disharingkan dengan orang lain agar menghasilkan buah yang banyak dan juga memberkati orang lain
Masalahnya sekarang, harta yang sangat berharga itu disimpan dalam bejana tanah liat, bukannya disimpan di safty box atau dipeti besi yang terkunci kuat, bukan, tetapi justru disimpan dalam bejana tanah liat, satu tempat yang sangat rentan untuk hancur, sangat-sangat rapuh.
Teman-teman pernah membuat kerajinan dengan tanah liat? Nah, ada proseskan yang harus dilalui untuk mendapat hasil yang maksimal.
  1. Memilih bahan, tidak boleh mengandung pasir
  2. Membersihkan, memisahkannya dari rumput ataupun kotoran
  3. Memadatkan, agar tidak ada lagi rongga didalam tanah yang terisi oleh udara, sebab udara dapat mengurangi kualitas tanah, sehingga ketika telah kering akan retak bahkan pecah.
  4. Membentuk, dengan atau tanpa alat
  5. Membakar/ menjemur
Proses yang panjang inilah yang akhirnya menghasilkan bejana yang sangat indah bahkan sangat bernilai/ mahal.
Teman-teman, kita di tangan Allah bagai bejana yang dikerjakan penjunan. Kita mengalami proses dalam hidup kita, kadang menyenangkan, tetapi mungkin lebih banyak yang menyakitkan. Tetapi perlu kita ketahui bersama, semua proses yang kita lalui itu bukan alasan untuk kita menyerah pada kenyataan tetapi justru harus menjadi pecut yang menyemangati dan menguatkan hidup kita, membentuk kita menjadi orang-orang yang terpakai dengan luar biasa, seperti bejana tanah liat yang digunakan untuk menyimpan harta.
Kita memang seperti bejana tanah liat, yang rapuh, bahkan sangat rapuh, gampang rusak dan pecah, tetapi, kita sudah melalui proses yang sangat panjang sehingga kita menjadi indah dan sangat berharga. Walaupun rapuh, Tuhan mau memakainya untuk menyimpan harta-Nya, justru yang rapuh inilah yang Tuhan percayakan untuk menyimpan harta-Nya yang sangat berharga itu. Tuhan tahu, justru karena kita rapuh, kita mau dipakai agar dapat dibentuk dan kalaupun pecah, dapat dibentuk kembali.
Itulah kita di mata Tuhan, sangat rapuh sekaligus sangat berharga. Tuhan Yesus tahu, kita, manusia gampang untuk berbuat dosa dan kesalahan, tetapi Tuhan terus mempercayakan Injil-Nya kepada kita, supaya apa? Supaya kita terus bergantung kepada-Nya, sehingga kita terus memperbaiki diri, menjauhi dosa dan berlari menuju kesempurnaan dalam keserupaan dengan Allah.
Teman-teman, orang yang tahu kelemahannya, pasti akan mencari cara untuk mengatasi kelemahannya tersebut dan berusaha menemukan kelebihannya. Benar ga? Tapi teman-teman, tidak ada orang yang benar-benar sempurna untuk mampu mengatasi dirinya sendiri, benar lagi ga? Dan Tuhan tahu itu, sangat-sangat tahu dan oleh karena itu, dalam kalimat selanjutnya dituliskan bahwa Tuhan memberikan kekuatan yang melimpah-limpah kepada bejana-Nya, orang-orang yang dititipkan Injil, kasih Allah di dalam dirinya. Supaya apa? Supaya nyata itu semua adalah perbuatan Tuhan. Dan ketika kita menyadari hal ini, maka pasti sepenuhnya kita berserah dan bergantung kepada Allah, karena kita lemah dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Allah.  

Oleh karena kita tidak ada apa-apanya, teman-teman, maka jangan timbul kesombangan dalam diri kita karena kita lahir di tengah keluarga yang kaya, dikaruniai otak yang encer, paras yang menawan dsb, karena itu tidak ada apa-apa, karena kita semua sama, hanyalah tanah liat yang sama-sama dibentuk oleh tangan Allah.
Atau jangan kita berkecil hati bahkan rendah diri ketika kita dilahirkan di keluarga yang cukup bahkan kekurangan, atau kita dianggap tidak ada oleh semua orang, atau dihina atau dikucilkan karena keberadaan kita, atau hal-hal lainnya yang sangat menyakitkan, karena kita adalah tanah liat yang telah dijadikan bejana oleh Allah, dibentuk dengan sangat indah dan dijadikan berharga di mata Tuhan, bahkan dititipkan harta-Nya yang sangat berharga, Injil itu, dititipkan kepada kita, kepada kamu dan juga saya.